JAKARTA – Badan Narkotika Nasional (BNN) terus memperkuat kualitas layanan rehabilitasi dengan meningkatkan kompetensi petugas rehabilitasi di seluruh Indonesia. Salah satu langkah yang dilakukan adalah membekali peserta pelatihan dengan teknik change talk, metode komunikasi yang berfokus pada penguatan motivasi internal klien agar mampu keluar dari jerat penyalahgunaan narkotika.
Materi tersebut menjadi bahasan utama dalam Pelatihan Peningkatan Kemampuan Bidang Kesehatan bagi Petugas Rehabilitasi dalam rangka Optimalisasi Layanan Rehabilitasi Berkelanjutan yang diselenggarakan Direktorat Pascarehabilitasi Deputi Bidang Rehabilitasi BNN di Pusat Pengembangan SDM Ketenagakerjaan (PPSDM) Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta Timur, Senin (3/8).
Pelatihan menghadirkan konselor adiksi sekaligus dokter spesialis kedokteran jiwa, Dr. dr. Diah Setia Utami, Sp.KJ., MARS., yang membawakan materi Motivational Interviewing (MI) dan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) Advance.
Dalam paparannya, dr. Diah menjelaskan bahwa change talk merupakan ungkapan yang muncul dari diri klien mengenai keinginan, alasan, kemampuan, kebutuhan, hingga komitmen untuk berubah. Menurutnya, kemampuan petugas menggali dan memperkuat pernyataan tersebut menjadi salah satu kunci keberhasilan rehabilitasi.
“Keberhasilan rehabilitasi tidak hanya ditentukan oleh intervensi medis dan psikososial, tetapi juga oleh kemampuan petugas membangun komunikasi yang empatik, kolaboratif, dan berorientasi pada kebutuhan klien,” jelasnya.
Selain memahami konsep change talk, peserta juga dibekali pengetahuan mengenai tahapan perubahan perilaku, mulai dari pra-kontemplasi, kontemplasi, persiapan, aksi, hingga pemeliharaan. Pemahaman terhadap setiap tahapan tersebut diharapkan membantu petugas menyesuaikan pendekatan komunikasi sesuai kondisi dan kesiapan klien.
Dalam sesi pelatihan, peserta juga mempelajari teknik dasar Motivational Interviewing melalui pendekatan OARS (Open-ended Questions, Affirmation, Reflective Listening, dan Summarizing). Teknik ini dinilai efektif untuk membangun hubungan terapeutik, mengurangi resistensi, sekaligus mendorong partisipasi aktif klien dalam menyusun rencana pemulihan.
Tak hanya itu, berbagai strategi membangkitkan change talk turut dikenalkan, mulai dari penggunaan pertanyaan evokatif, eksplorasi tujuan hidup, pemanfaatan readiness ruler, hingga teknik refleksi yang mampu memperkuat komitmen klien terhadap perubahan. Petugas juga diingatkan menghindari pola komunikasi yang menghakimi, mendominasi percakapan, atau terlalu cepat memberikan solusi karena dapat menghambat proses konseling.
Melalui penguatan kompetensi ini, BNN berharap petugas rehabilitasi semakin profesional dalam memberikan layanan yang humanis, berkelanjutan, dan berpusat pada kebutuhan klien. Peningkatan kemampuan komunikasi terapeutik tersebut diharapkan mampu memperbesar peluang keberhasilan pemulihan penyalahguna dan pecandu narkotika, sekaligus mendukung upaya Indonesia mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan bebas dari penyalahgunaan narkoba.@Humas







