POLRI

Di Balik Seragam Polisi, Ada Tangan Seniman: Bripka Pande Sulap GWK Jadi Ikon Bhayangkari di JICC Jakarta

0
×

Di Balik Seragam Polisi, Ada Tangan Seniman: Bripka Pande Sulap GWK Jadi Ikon Bhayangkari di JICC Jakarta

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Tak semua bentuk pengabdian diwujudkan melalui penegakan hukum. Bagi Bripka Pande Made Ari Sudewa, S.H., anggota Ditresnarkoba Polda Bali, kecintaan terhadap seni menjadi cara lain untuk mengharumkan nama Polri sekaligus melestarikan budaya Indonesia.

Di balik seragam Bhayangkara yang dikenakannya, polisi asal Desa Junjungan, Ubud, Gianyar itu dikenal sebagai seniman pahat berbakat. Setelah sebelumnya dipercaya membuat Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Garuda Camp, Afrika Tengah, kini ia kembali menciptakan karya monumental berupa Patung GWK setinggi 2,3 meter yang menjadi ikon stan Bhayangkari Daerah Bali pada ajang Bazar Kreasi Bhayangkari Nusantara (KBN) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), 21–25 Juli 2026.

550x300

Patung tersebut dibuat atas permintaan Ketua Bhayangkari Daerah Bali, Ny. Didit Daniel Adityajaya, sebagai simbol kekayaan seni dan budaya Pulau Dewata sekaligus daya tarik utama bagi pengunjung pameran yang diikuti ratusan pelaku UMKM Bhayangkari dari seluruh Indonesia.

Proses pembuatannya memakan waktu sekitar dua bulan. Meski tetap menjalankan tugas sebagai anggota Polri, Bripka Pande mampu membagi waktu hingga karya itu selesai tepat waktu. Ia dibantu tiga rekannya, yakni Agus Swardita, Made Sugita, dan Gusti Bernat.

Perjalanan patung menuju Jakarta pun tidak berjalan mulus. Truk pengangkut sempat mengalami pecah ban di perjalanan, bahkan saat tiba di lokasi pameran, bagian kepala Garuda dan tangan Dewa Wisnu mengalami kerusakan akibat benturan.

Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan semangatnya. Dengan ketelitian dan kesabaran, Bripka Pande memperbaiki bagian yang rusak hingga patung kembali berdiri megah di depan stan Bhayangkari Daerah Bali.

Kerja keras itu membuahkan hasil. Sejak hari pertama pameran dibuka, Patung GWK menjadi magnet perhatian pengunjung. Banyak yang berhenti untuk mengagumi detail ukirannya, mengabadikan momen melalui swafoto, hingga menjadikannya sebagai salah satu spot foto favorit di area pameran.

Bagi Bripka Pande, seni bukan sekadar hobi, melainkan bentuk kecintaan terhadap budaya Bali yang ingin terus diwariskan kepada generasi penerus.

“Saya berharap karya ini dapat menjadi salah satu cara untuk mengajegkan seni dan budaya Bali agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman. Sebagai anggota Polri, saya ingin menunjukkan bahwa polisi tidak hanya hadir menjaga keamanan, tetapi juga mampu berkarya, menginspirasi, serta ikut melestarikan warisan budaya bangsa,” ujarnya, Rabu (22/7/2026).

Suami dari Ipda Ni Luh Gede Putri Wandriani itu mengaku bangga karena karya yang dibuatnya dapat mendukung promosi UMKM Bhayangkari Daerah Bali di tingkat nasional. Baginya, kepuasan terbesar bukan hanya melihat patung berdiri kokoh, melainkan ketika karya tersebut mampu membangkitkan kebanggaan masyarakat terhadap seni budaya Bali.

Kisah Bripka Pande menjadi bukti bahwa pengabdian seorang anggota Polri dapat diwujudkan dalam berbagai cara. Dari ruang tugas hingga ruang seni, ia menunjukkan bahwa profesionalisme, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya dapat berjalan berdampingan, menghadirkan wajah Polri yang humanis sekaligus menginspirasi.@Red

error: mediapolri.id