oleh

Tersangka Demo Anarkis di Malang Mengaku Membenci Polisi

MALANG – 1 dari 129 demonstran menolak UU Cipta Kerja atau Omnibus Law di Malang ditetapkan menjadi tersangka. Dia adalah AN (21), pemuda asal Wagir, Kabupaten Malang. Pemuda yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan ini, terbukti merusak bus polisi saat aksi kericuhan terjadi.

Menurut pengakuan AN kepada polisi, aksi onarnya dilandasi ketidaksukaannya pada polisi. Hal ini diungkapkan Kasat Reskrim Polresta Malang Kota, AKP Azi Pratas Guspitu.

”Dari hasil pemeriksaan, dia ngakunya hanya gak suka dengan polisi. Rasa kesalnya ini juga sudah lama hingga akhirnya saat itu ada kesempatan, dia luapkan emosinya dengan ikut melempari polisi dengan batu,” ungkap Azi, pada Selasa (13/10/2020).

Lebih lanjut, dari interogasi yang dilakukan, pihaknya juga tidak menemukan adanya kaitan afiliasi pelaku dengan kelompok manapun yang ikut turun ke jalan saat aksi menolak UU Sapu Jagat itu.

Azi membeberkan, dari 5 orang tukang bangunan yang tertangkap, mereka tidak saling kenal. ”Hasil identifikasi, dia tidak tergabung dengan kelompok manapun. Dia datang sendiri lalu ikut merusuh dengan motif gak suka polisi itu tadi,” jelasnya.

Kepada polisi, AN mengaku datang ke lokasi demo diajak istrinya untuk melihat aksi demo tersebut. Seruan demo, dilihat pelaku dari postingan media sosial. Saat datang, kondisi sudah ricuh dan pelaku ini ikut membaur dengan barisan massa.

”Istrinya disuruh pulang ke rumah, pelaku ini tetap disitu hingga akhirnya ikut melakukan pengrusakan. Ngakunya, dia ikut-ikut saja waktu itu. Saya tanyain soal Omnibus Law juga dia gak tahu,” tambahnya.

Lebih lanjut, terkait upaya pengusutan polisi terhadap provokator aksi kerusuhan ini, diakuinya masih sedang didalami lebih lanjut.

”Cuma memang ada kelompok tertentu yang menyusup ke barisan massa dengan tujuan ricuh. Itu analisisnya, kita masih lakukan pendalaman,” pungkasnya.

Atas perbuatannya, AN akan diproses hukum dengan dikenakan pasal 170 KUHP tentang pengrusakan benda atau orang dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara.@Red

Komentar

News Feed