oleh

Polda Sumut Bongkar Pinjol Ilegal Bermodus SMS dan WhatsApp

MEDAN – Personel Ditreskrimsus Polda Sumatera Utara (Sumut) berhasil mengungkap kasus pinjaman online (pinjol) ilegal. Sebanyak kasus pinjol ilegal di Sumut dengan modus mengirim pesan melalui SMS Dan WhatsApp berhasil dibongkar.

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Hadi Wahyudi mengatakan pihaknya menerima tujuh laporan pinjol ilegal selama tahun 2021. Dari tujuh kasus tersebut, satu kasus diambil alih Mabes Polri.

Sementara itu Ditreskrimsus Polda Sumut berhasil mengungkap satu laporan,” kata Hadi Wahyudi, Jumat (5/11/2021).

Hadi mengatakan pihaknya berhasil mengungkap pinjol ilegal di Kota Tanjungbalai. Sebanyak dua orang pelaku diamankan petugas ke Polda Sumut saat sedang beroperasi.

“Kedua tersangka yang kami amankan yakni Aras dan SY. Sementara itu satu orang lainnya masih kami buru yaitu pemilik rekening,” ucapnya.

Dalam menjalankan aksinya, komplotan ini membuat wall akun bisnis koperasi. Mereka kemudian mencantumkan nomor yang bisa dihubungi dan selanjutnud disebar ke media sosial.

“Calin korban menghubungi nomor yang ada di wall itu. Kemudian, pelaku menindaklanjutinya dengan mengirim pesan SMS dan WhatsApp kepada nomor korban. Pesan itu berisi mendapatkan pinjaman dan alasan lainnya. Setelah itu, mereka meminta biaya admintrasi sebesar Rp500.000,” ucapnya.

Setelah korban mengirim uang ke rekening salah satu tersangka, para pelaku langsung memblokir nomor Handphone agar tidak bisa dihubungi lagi.

“Total uang tunai yang kami sita sebanyak Rp35 juta. Kami belum tahu berapa banyak uang yang masuk ke rekening tersangka. Selain uang tunai itu, kita juga menyita barang bukti Laptop dan Handpone,” ucapnya.

Sementara, Direktur Reskrimsus Polda Sumut Kombes Pol Jhon Nababan mengimbau kepada masyarakat, untuk tidak cepat percaya ketika menerima pesan SMS dan WhatsApp yang berisi tentang pinjaman uang maupun hadiah uang.

Dia mengatakan saat ini marak kasus penipuan menggunakan pesan singkat atau WhatsApp. Pelaku sengaja mencatut nama koperasi yang berbadan hukum agar para korbanya percaya.

“Setelah kami cek, koperasi itu memang ada. Tapi para tersangka mencatut nama dan logo koperasi itu,” ucapnya.@Humas

Komentar

News Feed