POLRI

Perantau Nagari Pandai Sikek di Jabodetabek Dukung Penolakan Proyek Geothermal

0
×

Perantau Nagari Pandai Sikek di Jabodetabek Dukung Penolakan Proyek Geothermal

Sebarkan artikel ini

JAKARTA — Suara para perantau Pandai Sikek kembali menggema ke kampung halaman. Mereka sepakat menolak rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (geothermal) di Nagari Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Sikap tersebut ditegaskan dalam Rapat Pengurus Ikatan Keluarga Pandai Sikek (IKAPSI) Jabodetabek, yang dihadiri pengurus inti dan perwakilan rayon dari tiga provinsi—DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Pertemuan itu menghasilkan satu keputusan bulat: mendukung penuh penolakan masyarakat nagari terhadap proyek geothermal yang dinilai berisiko tinggi bagi lingkungan dan sosial ekonomi warga.

550x300

“Dukungan ini bukan sekadar emosi, tapi hasil pertimbangan mendalam atas dampak lingkungan dan sosial yang bisa timbul,” ujar Ketua IKAPSI Jabodetabek, Adlis Rasyidin, dalam pertemuan Jumat (31/10/2025).

Menurut Adlis, sikap perantau sejalan dengan keputusan yang telah diambil unsur Badan Perwakilan Rakyat Nagari (BPRN), Wali Nagari, Kerapatan Adat Nagari (KAN) atau Pangulu Anam Puluah, serta unsur Pemuda Nagari Pandai Sikek.

Para perantau menilai proyek geothermal tersebut berpotensi menggerus lahan produktif pertanian dan meningkatkan risiko tanah longsor akibat penurunan permukaan tanah.

“Kami tidak hanya khawatir pada lingkungan, tetapi juga potensi konflik sosial karena lokasi proyek berada di lahan produktif milik warga,” tambah Adlis. “Sebagai anak nagari, kami punya kewajiban moral untuk menyuarakan penolakan ini.”

Nagari Pandai Sikek dikenal bukan hanya karena alamnya yang subur di antara Gunung Marapi dan Gunung Singgalang, tetapi juga karena tradisi dan budaya yang menjadi identitas kuat masyarakatnya. Daerah ini merupakan sentra kerajinan songket dan ukiran kayu yang sudah dikenal hingga mancanegara.

Selain itu, Pandai Sikek juga tumbuh sebagai destinasi wisata alam dan budaya, dengan Puncak Tabiang sebagai salah satu ikon yang ramai dikunjungi wisatawan. Kawasan wisata ini berada tak jauh dari lokasi rencana proyek geothermal yang kini menuai penolakan luas.

Data BPS Tanah Datar (2024) menunjukkan sektor pertanian menyumbang hampir 30 persen PDRB daerah dan menjadi sumber penghidupan utama bagi lebih dari 70 persen penduduk. Dalam tiga tahun terakhir, nilai ekonomi sektor ini meningkat lebih dari Rp1,4 triliun. Penelitian Kementerian ESDM (2023) juga mencatat bahwa eksplorasi geothermal berpotensi menimbulkan perubahan aliran air tanah, pelepasan gas hidrogen sulfida (H₂S), serta ketimpangan sosial antara investor dan masyarakat lokal.

Sikap masyarakat Pandai Sikek turut mendapat perhatian dari Anggota DPR RI asal Tanah Datar, Shadiq Pasadigoe. Ia berjanji membawa aspirasi warga ke tingkat nasional.

“Aspirasi ini adalah suara hati rakyat yang harus kita dengarkan. Negara tidak boleh abai terhadap keberlanjutan lingkungan dan kearifan lokal,” ujar Shadiq (16/10/2025).

Mantan Bupati Tanah Datar itu menegaskan, pembangunan energi terbarukan tetap penting, namun tidak boleh mengorbankan rakyat dan tanah pusaka mereka.

“Kita mendukung energi bersih, tetapi harus memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” tegasnya.

Dari rantau, suara Pandai Sikek kembali pulang ke lembah. Bukan untuk menolak kemajuan, tetapi untuk memastikan pembangunan berjalan tanpa menghapus akar kehidupan masyarakatnya.

Bagi mereka, tanah bukan sekadar lahan, melainkan warisan, sumber penghidupan, dan identitas yang harus dijaga.@Tgk Zunet

error: mediapolri.id