oleh

Palsukan Surat Putusan Cerai, Seorang Pengacara di Buleleng Dijebloskan ke Penjara

DENPASAR – Oknum pengacara berinisial ESK (33) kini harus mendekam di penjara, setelah dilaporkan hakim Pengadilan Negeri (PN) Singaraja ke Polres Buleleng. Tersangka ESK diduga memalsukan surat putusan pengadilan terkait kasus perceraian, hingga membuat nama baik institusi pengadilan tercoreng.

Kasus pemalsuan surat putusan kasus perceraian ini terungkap saat tergugat Rika Budi Ayu Anggraeni mendatangi PN Singaraja pada Jumat (29/1/2021), sambil membawa turunan putusan perkara perdata yang  dikeluarkan PN Singaraja.

Rika bermaksud untuk mengklarifikasi karena sidang perceraian masih berlangsung, tetapi PN Singaraja telah mengeluarkan putusan. Bahkan Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil)  Buleleng telah menerbitkan akta perceraian dengan penggugat Gede Hendra Wikutama, yang tak lain suaminya sendiri.

“Tergugat saat itu langsung mendatangi panitera pengadilan. Dari panitera dijelaskan bahwa pengadilan belum pernah mengeluarkan salinan putusan karena sidang masing berlangsung,” kata Kasubbag Humas Polres Buleleng Iptu Gede Sumarjaya, Kamis (8/4/2021).

Sebelum kasus ini dilaporkan ke polisi, PN Singaraja telah berusaha memanggil oknum pengacara ESK untuk dimintai klarifikasi terkait kasus ini namun tidak pernah datang.

PN Singaraja juga melakukan klarifikasi ke Kantor Disdukcapil Buleleng, terkait alasan penerbitan akta cerai sesuai permohonan dari tersangka yang juga kuasa hukum penggugat.

Akhirnya diputuskan kasus ini dilaporkan PN Singaraja ke polisi. Saat ini ESK telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan.

Dari hasil pemeriksaan tersangka ESK mengakui semua perbuatannya. Sebagai kuasa hukum penggugat, dia mendaftarkan gugatan cerai ke PN Singaraja nomor : 679/Pdt.G /2020/PN.Sgr tertanggal 17 November 2020.

“Tersangka mengaku memalsukan surat itu atas inisiatifnya sendiri, tanpa diketahui kliennya. Selama proses sidang cerai, penggugat tidak pernah datang dan selalu diwakili kuasa hukumnya,” kata Sumarjaya.

Untuk mempercepat proses cerai kliennya, tersangka berinisiatif memalsukan dokumen dengan mengetik sendiri menggunakan laptop miliknya. Bagian sampulnya termasuk tanda tangan panitera di-scan.

“Seluruh surat ini di-print menggunakan kop surat dan stempel basah bertuliskan Pengadilan Negeri Singaraja. Surat inilah yang dibawa ke Kantor Catatan Sipil untuk mengajukan penerbitan akta perceraian,” katanya.

Selain menahan tersangka, penyidik juga telah memeriksa saksi dan menyita sejumlah barang bukti serta dokumen atau surat.

Saat ini penyidik telah melimpahkan tahap satu berkas perkara tersangka ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Buleleng. @in

Komentar

News Feed