oleh

Gubernur Bali I Wayan Koster Tegaskan Perketat Pengawasan PMI/ABK

DENPASAR, Mediapolri.id – Dengan mempertimbangkan perkembangan pasien positif COVID-19 di Provinsi Bali yang ternyata bersumber dari PMI/ABK dan telah menularkan kepada keluarga dan warga sekitarnya Gubernur Bali I Wayan Koster menegaskan agar Bupati/Walikota se-Bali agar memperketat kedatangan PMI/ABK.

“Dngan ini saya sebagai Ketua Gugus Tugas Provinsi Bali menyampaikan hal – hal sebagai berikut.Pertama, kepada Bupati/Walikota se-Bali bersama-sama aparat keamanan agar memperketat pengawasan para PMI /ABK yang dikarantina oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dan yang melaksanakan karantina secara mandiri di rumah,” kata Gubernur Bali, Wayan Koster. Kamis, (30/04/20).

Ketegasan itu disampaikan dengan dasar perkembangan COVID-19 akhir-akhir ini di Provinsi Bali dapat disampaikan bahwa sampai tanggal 28 April 2020 secara kumulatif jumlah pasien positif COVID-19 telah mencapai 215 orang, bertambah sebanyak 22 orang dari hari sebelumnya.

Penambahan ini berasal  dari Kabupaten Bangli yang positif sebanyak 11 orang, Kabupaten Karangasem sebanyak 5 orang,
Kabupaten Klungkung sebanyak 2 orang, Kabupaten Badung sebanyak 2 orang, dan Kabupaten Buleleng sebanyak 2 orang.

Penambahan yang positif berasal dari PMI/ABK sebanyak 9 orang dan terjangkit di Bali (penularan lokal) sebanyak 13 orang. Diantaranya sebanyak 8 orang yang positif dari Banjar Srokadan, Desa
Abuan, Kabupaten Bangli, yang ditularkan oleh seorang PMI/ABK yang melaksanakan karantina  secara mandiri di rumahnya.

” Demikian juga sebanyak 5 orang di Karangasem, orang diantaranya
dalam satu keluarga di Desa Padang Kerta, terjadi penularan dari seorang PMI/ABK yang melaksanakan karantina secara mandiri. Begitu juga yang 1(satu) orang PMI/ABK di Desa Bungaya
Kangin, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem yang melaksanakan karantina secara mandiri.

Para PMI/ABK yang melaksanakan karantina mandiri ini ternyata tidak tertib dan tidak disiplin  sehingga menularkan kepada keluarganya dan warga lain disekitarnya. Kondisi ini baru bisa
diketahui setelah Gugus Tugas Provinsi dan Kabupaten/Kota melakukan Rapid Test tahap kedua beberapa hari yang lalu bagi para PMI/ABK yang melaksanakan karantina secara mandiri.

Dari hasil Rapid test ditemukan ada yang positif COVID-19, kemudian diambil Swab dan diuji laboratorium ternyata hasilnya positif COVID-19. Selanjutnya mereka yang positif COVID-19 telah diambil dan ditangani oleh Gugus Tugas Provinsi untuk menjalani perawatan.

Perlu disampaikan bahwa para PMI/ABK yang melaksanakan karantina secara mandiri, pada saat mereka pulang hanya membawa Surat Keterangan Sehat dari perusahaan tempat mereka bekerja di luar negeri, dan di Bandara dilakukan pemeriksaan dengan Thermo Gun. Pada saat itu, sesuai dengan protokol kesehatan COVID-19 yang ditentukan oleh Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Kesehatan, bagi PMI/ABK yang telah membawa Surat Keterangan Sehat langsung bisa melaksanakan karantina secara mandiri. Pada umumnya mereka pulang sebelum tanggal 22 Maret 2020.

Bahkan diantara PMI/ABK tersebut ada yang pulang tidak melalui prosedur resmi dari luar negeri, yaitu pulang dengan penerbangan sendiri sehingga tidak terpantau oleh pihak otoritas bandara.

Ternyata diantara para PMI/ABK yang pulang melalui prosedur tidak resmi dan yang pulang melalui prosedur resmi tetapi melaksanakan karantina secara mandiri di rumahnya, ditemukan ada yang positif setelah dirawat di rumah sakit.

Berdasarkan temuan beberapa orang PMI/ABK yang positif COVID-19 tersebut, Gugus Tugas Provinsi Bali langsung bertindak cepat dengan melakukan Rapid Test di Bandara I Gusti Ngurah Rai
dan Pelabuhan Benoa bagi para PMI/ABK yang datang dari berbagai negara mulai tanggal 22 Maret 2020.

Mereka yang negatif boleh pulang mengikuti karantina mandiri di rumahnya selama 2 minggu, dan yang positif COVID-19 langsung dirawat di Rumah Sakit Rujukan.

Kemudian Gugus Tugas Provinsi memperkuat penanganan PMI/ABK yang diputuskan pada tanggal 13 April 2020, dengan berbagi tugas secara bergotong-royong yaitu PMI/ABK yang positif ditangani oleh Gugus Tugas Provinsi dan yang negatif ditangani oleh Gugus Tugas Kabupaten/Kota dengan mengkarantina di
Hotel atau di fasilitas lain.

” Kita bersyukur karena dari jumlah pasien positif COVID-19 sebanyak 215 orang, sebanyak 88 orang atau sekitar 41 persen telah berhasil sembuh, ini angka yang cukup tinggi yaitu peringkat 5 secara
Nasional di bawah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebanyak 39 orang dari 93 kasus (42 persen),
Aceh sebanyak 4 orang dari 9 kasus (44 persen), Maluku sebanyak 11 orang dari 22 kasus (50 persen), dan Nusa Tenggara Timur 1 orang dari 1 kasus (100 persen),” jelasnya.

Sementara dilihat dari jumlah pasien yang meninggal, Bali termasuk dalam kelompok paling rendah yaitu sebanyak 4 orang dari 215 kasus atau sekitar 2 persen terdiri dari 2 orang WNA, 1 orang daerah luar yang berdomisili Bali, dan 1 orang  PMI/ABK warga Bali ,”terangnya@ferry.

Komentar

News Feed