MEDIA POLRI – Sebuah rumah kontrakan sederhana di Meruya Selatan, Jakarta Barat, ternyata menyimpan rahasia kelam. Di balik pintunya yang terlihat biasa, tersembunyi dapur “neraka” tempat racikan sabu diproduksi. Dan lebih mengejutkan lagi tempat ini terkoneksi langsung dengan jaringan narkotika internasional: Golden Crescent, sindikat gelap dari Iran, Afghanistan, dan Pakistan.
Kamis (10/7/2025), Direktorat Reserse Narkoba Polda Jawa Barat membuka tabir ini dalam konferensi pers di Gedung Ditresnarkoba Polda Jabar. Kabid Humas Kombes Pol. Hendra Rochmawan dan Dirresnarkoba Kombes Pol. Albert RD memaparkan bagaimana operasi senyap itu digelar sejak 5 Juli 2025.
Tim dari Subdit 3 Ditresnarkoba Polda Jabar melacak pergerakan seorang WNA asal Iran. Dengan penuh kehati-hatian, mereka membuntuti setiap jejak digital dan fisik hingga akhirnya menggerebek rumah kontrakan pada 8 Juli.
Yang ditemukan sungguh mengerikan: dua drum cairan sabu, sabu siap edar, bahan kimia berbahaya seperti aseton, dan seperangkat alat laboratorium sekelas industri kimia gelap. Dua pelaku, MT (warga negara Iran) dan RA (warga Indonesia), langsung ditangkap di tempat kejadian.
“Ini bukan pengedar jalanan. Ini bagian dari skema besar kejahatan internasional,” kata Kombes Pol. Hendra. “Mereka datang bukan untuk berwisata, tapi untuk menghancurkan masa depan anak-anak bangsa.”
Kerja sama lintas wilayah antara Polda Jabar dan Polres Metro Jakarta Barat menjadi kunci sukses operasi ini. Dirresnarkoba Kombes Pol. Albert RD menegaskan bahwa pihaknya sedang memburu sisa rantai sindikat tersebut, yang diduga menyebar hingga beberapa provinsi dan bahkan luar negeri.
“Kami sudah kantongi nama-nama baru dan titik-titik panas lainnya. Ini baru awal,” ujarnya.
Atas perbuatannya, para tersangka terancam hukuman mati, penjara seumur hidup, atau denda miliaran rupiah sesuai UU Narkotika No. 35 Tahun 2009. Pesan terakhir Kombes Hendra jelas dan tegas:
“Negara tidak boleh kalah oleh narkoba.”@Tgk Sultan







