DELI SERDANG – Tidak ada jalan yang terlalu jauh untuk kembali pulang. Di momen sakral peringatan Hari Bhayangkara ke-79, lima remaja yang pernah terjerat dalam dunia kelam geng motor akhirnya bersimpuh di kaki ibu, menandai awal pertobatan mereka di Mapolsek Pantai Labu, Polresta Deli Serdang.
Tangis haru pecah saat satu per satu dari mereka memeluk orang tua mereka, membasuh kaki sang ibu, dan mengucapkan janji untuk meninggalkan dunia yang sempat menyesatkan.
“Mereka bukan lagi pelaku, tapi anak-anak yang ingin kembali ke pelukan keluarga,” ungkap Kapolsek Pantai Labu Iptu Sujarwo, S.Psi., M.H., yang memimpin kegiatan tersebut.
Sebelum sungkem, kelima remaja tersebut menjalani pembinaan melalui pesantren kilat. Di hadapan aparat dan orang tua mereka, mereka membacakan deklarasi pembubaran geng motor dan menyatakan janji untuk tidak kembali ke jalan kekerasan.
“Kami minta maaf, kami ingin berubah,” begitu isi pengakuan mereka yang disampaikan dalam tangis dan suara parau.
Momen emosional ini bukan hanya bentuk pertobatan, tetapi juga simbol penting: bahwa peran keluarga, terutama seorang ibu, adalah benteng terakhir bagi remaja yang hampir hilang arah.
Pelukan sang ibu, air mata yang tak tertahankan, serta penerimaan kembali dalam lingkaran keluarga menjadi titik balik dari sebuah masa lalu kelam menuju masa depan yang lebih baik.
Kapolsek Sujarwo dalam keterangannya menyampaikan bahwa kenakalan remaja tidak bisa dilawan dengan hukuman semata, tetapi butuh pendekatan menyentuh hati.
“Kami tidak akan mentoleransi kejahatan, tapi kami juga membuka ruang untuk mereka yang ingin berubah. Kami hadir sebagai pengayom, bukan hanya penindak,” tegasnya.
Lebih jauh, Kapolsek juga menghimbau orang tua untuk tidak terlena dalam kasih sayang yang tanpa pengawasan.
“Kalau perlu, terapkan jam malam, simpan kunci motor dan handphone anak-anak saat malam hari. Jangan sampai penyesalan datang karena kelalaian.”
Polsek Pantai Labu menegaskan komitmen untuk memberantas geng motor, namun juga memberikan kesempatan bagi remaja untuk bertobat dan kembali ke pangkuan keluarga.
Di balik derai air mata itu, Hari Bhayangkara ke-79 menjadi saksi bahwa perubahan itu nyata, selama masih ada yang peduli dan memberi ruang untuk pulang.@yan







