MEDIA POLRI – Dalam upaya menyiapkan garda terdepan layanan rehabilitasi yang andal, Badan Narkotika Nasional (BNN) menggelar pembekalan uji sertifikasi konselor adiksi secara daring, Rabu (14/5) kemaren. Lewat layar virtual, sebanyak 46 peserta dari berbagai penjuru Indonesia mengikuti pelatihan intensif yang digagas oleh Direktorat Penguatan Lembaga Rehabilitasi Instansi Pemerintah (PLRIP), Deputi Bidang Rehabilitasi BNN.
Kegiatan ini tak sekadar rutinitas administratif. Seperti dijelaskan Kepala PPSDM BNN, Caca Syahroni, pembekalan menjadi gerbang awal menuju pengakuan kompetensi resmi. Peserta tak hanya dituntut hadir 80% dari waktu pelatihan, namun juga wajib membawa pengalaman minimal dua tahun di lapangan, rekomendasi atasan, serta telah menyelesaikan pelatihan adiksi NAPZA.
“Pembekalan ini bukan sekadar teori, tapi persiapan mental, etika, dan teknis untuk benar-benar hadir sebagai agen perubahan dalam dunia rehabilitasi,” ungkap Plt. Direktur PLRIP, dr. Yosi Eka Putri, MKM., dalam sambutannya.
Data menunjukkan hanya 37,5% petugas rehabilitasi yang telah bersertifikasi hingga 2024. Sementara itu, efektivitas layanan meningkat 1,5 kali pada mereka yang tersertifikasi. “Ini alarm penting. Kita butuh lebih banyak konselor yang tak hanya hadir, tapi benar-benar kompeten,” tegas dr. Yosi.
Pembekalan ini pun jadi terobosan dalam perluasan akses. Lewat daring, hambatan geografis tak lagi jadi alasan. Dari kota hingga pelosok, semua punya kesempatan yang sama untuk naik kelas sebagai konselor adiksi bersertifikat.
Di akhir sesi, dr. Yosi menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi, mulai dari tim PPSDM dan LSP BNN hingga para narasumber dan peserta. Ia berharap ilmu yang ditransfer dalam pembekalan ini dapat menjadi bekal nyata dalam meningkatkan mutu layanan rehabilitasi nasional.@red







